Selasa, 18 Oktober 2011

Pencegahan Lebih Baik Dari Pada Pengobatan “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar”


Tre…et, Tre…et, Tre…et. Belpun berbunyi, pertanda jam pelajaran telah berakhir, pak gurupun langsung memberi aba-aba kepada kami untuk berdoa sebelum pulang. Zaid, ketua kelas kami, seketika langsung memimpin kami untuk berdoa “siap! Sebelum kita pulang marilah kita berdoa, berdoa mulai!”. Kamipun menundukkan kepala sembari berdoa di dalam hati menurut keyakinan masing-masing. Selang tempo satu menit, Zaidpun mengakhiri acara doa itu sembari berkata, “selesai!”.
Lalu pak guru mengucap salam, “Assalamualaikum Wr.Wb.” kamipun menjawabnya dengan “Waalaikumsalam Wr.Wb.”. kemudian pak guru beranjak menuju pintu kelas sembari menunggu kami untuk berjabatan tangan satu persatu. Karena kebetulan waktu itu guru kami adalah laki-laki, beliaupun menyuruh teman-teman perempuan alias siswi untuk pulang duluan tanpa berjabatan tangan dengan beliau.
Tak lama kemudian, setelah semua siswi keluar, lalu giliran Saya dan Muchlis, teman sebangkuku untuk pulang terlebih dahulu, sebab kebetulan tempat duduk kami berdua berada di tempat yang sangat strategis sekali, yaitu di pojok kanan bagian depan, lalu kami berdua maju dan disusul oleh teman-temanku yang lain sembari mengendong tasnya masing-masing.
Ketika keluar dari kelas sebagian teman-teman saya pulang kerumahnya masing-masing, sedangkan sebagian yang lain termasuk saya dan Muchlis pulang ke pondok, karena kami bertempat tinggal di pondok alias nyantri.
Setibanya di depan kamar mandi pondok, muchlispun pamit kepada saya untuk membuang air kecil dulu di sana dan menyuruh saya untuk berangkat ke kamar duluan. Mendengar hal itu sayapun pergi duluan, langkah demi langkah kami saya atur pelan-pelan, setelah saya membuka sepatu, sayapun naik keatas loteng alias lantai dua. Sembari memegang sepatu disana saya tetap mengatur langkah kaki dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara yang cukup berisik yang dapat mengganggu ketenangan orang lain, maklumlah, walaupun pondok saya berlantai dua, tetapi lantai duanya masih terbuat dari kayu serap Yang kalau berlari-lari akan menimbulkan suara yang kurang berkenan di hati.
Tidak terasa langkah kakiku  telah menghadirkanku ketempat sepatu,tepatnya di depan kamar Blok A1, kamarnya Muchlis. Setelah saya meletakkan sepatuku, saya mendengar suara krasak – krusuk suara itu berasal dari kamarnya Muchlis.
Suara aneh itu membuatku jadi penasaran dan ingin mendengarkannya lebih jelas lagi, saya tidak bisa melihat sesuatu dikamarnya muchlis. Karena Muchlis menutup jendela kamarnya dengan triplek yang takseorangpun bisa melihat sesuatu yang ada di kamarnya Muchlis. Jadi, terpaksa saya menempelkan telingaku ke jendela tersenut untuk mendengarkan suara aneh tadi.
“tre…et dep” suara itu terdengar kembali, kali ini suaranya lebih jelas. Keherananku semakin memuncak, lalu saya berfikir sejenak, dan hati nuraniku berkata “kayaknya suara itu seperti suara pintu lemari dan engselnya yang sedang di tutup,” saya diam sejenak dan berfikir kembali, “siapa ya yang menutup lemari itu?” tanyaku dalam hati.
Dalam pikiranku timbul tanda Tanya (arek lancor) yang cukup besar “kalau itu tingkah laku tikus dan kucing, pasti suaranya tidak serapi itu, nah kalau itu ulah manusia, saya yakin dia tidak akan bisa masuk kamar ini dengan mudah, karena seingat saya Muchlis itu selalu mengunci pintungnya setiap pergi sekolah. Jadi, tak seorangpun yang bias masuk kedalam kamarnya, kemuali pintunya di dobrak oleh orang itu.
Batinku terdorong untuk memeriksa pintu tesebut, dengna bersikap mawas diri kupgang daun pintunya, saatku perhatikan ternyata ada suatu yang aneh di sana, pintu itu di kunci dari dalam, saya yakin di kamar itu ada seorang yang menyelinap, tapi saya heran denga orang tiu karena setahu saya Muchlis selalu mengunci pintu kamarny setiap mau pergi ke sekolah.
Adapun teman-teman sekamarnya Muchlis, mereka semua telah pulang tiga hari yang lalu untuk merayakan lebaran di rumahnya masing-masing sebab kebetulan pada waktu itu lebaran juga kurang lima hari dan rasanya mustahil kalau mereka kembali secepat itu, sebab rumah mereka beradai di pulau sebarang yaitu di jawa.
Filingku tidak enak waktu itu, dalam benakku selalu timbul tanda Tanya yang sangat besar.
“Siapa sich, orang yang berani-beraninya masuk kamarnya Muchlis tanp seizing penghuninya?, Apa sich maunya manusia gelap itu kok bisa-bisanya  dia mengurung diri di kamarnya orang lain?, dan orang macam nama orang itu, sehingga dia bisa menerobos pintu yang terkunci tanpa ditemukan kerusakan pada pintu ini?”
Denga rasa penasaran yang cukuptinggi, ku kumpulkan keberanianku untuk mendeteksi orang itu, sembari mengankat tangan untuk mengetuk pintu, tok, tok, tok… Sayapun berkata, “Siapa di dalam? Tolong buka pintunya!” dua kali saya  mengulangi perkataan itu, tapi tidak digubris olehnya.
Semangatku semakin berkubu-kubu untuk mengetahui orang tersebut, dan saya yakin orang itu tidak akan mampu untuk melarika diri, sebab tidak ada jalan keluar baginy akecuali dia lewat pintu dan jendela   depan. Dengan keyakinanku tersebut, akhirnya kucoba untuk yang ketiga kalinya, tok, tok, tok… “siapa di dalam? Ayo, keluarlah teman tidak jalan keluar bagimu kecuali lewat pintu ini,” ucapku sambil mengancam-nya.
Padaakhirnya orang itu mau mendengarkan ocehanku, lalu diapun membukakan pintunya, setelah dia memperlihatkan batang hidungnya, ternyata orang itu santri baru yang hanya satu bulan dia mondok, sebut saja dia rendi.
Saat tatapanku diarahkan padanya, kutemukan dia dalam keadaaan pucat, matanya memerah dan kayaknya dia ketakuatan seperti sedang menyembunyikan sesuatu, dan dia tidak ingin orang lain mengetahui rahasianya. Hal itu terbukti ketika saya mencoba untuk bertanya kepadanya. “Ren, apa yang kamu lakukan di kamar ini? Lalu kenapa kamu tidak sekaolah, Ren?”.
Rendi semakin kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dariku. Sekali ini dirasakannya tatapanku mendekati di sekujur tubuhnya, Rendi tertunduk, tak sepatah katapun yang keluar darinya. Dibiarkannya waktu berlalu lambat dalam kesepian yang bisu.
Sekaranga Rendi benar-benar terperangkap dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dari saya, dia tidak mampu berargumen untuk mengelak dari pertanyaan saya. Saat-saat genting seperti itu, tiba-tiba Muchlis dengan suaranya yang menyeru namaku menerawang ke lantai dua, tempat dimana saya dan Rendi berada. “Suf…Suf… Suf…” telingaku tersentak oleh seruannya, seketika saya langsung membelikkan awakku untuk menyahut sehut seruannya. “Iya Lis, saya di sini”
Dalam selang tempo satu menit, setelah saya membalikkan kembali awakku ke posisi semula. Entah kemana, tiba-tiba sirendi menghilang, rupanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, disaat saya dalam keadaan lengah, dia gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Mengetahui hal itu saya langsung mengarahkan pandangan saya kesetiap sudut ruangan untuk mendeteksi keberadaannya, tapi usaha saya sia-sia, tiada hasil yang saya dapatkan, batang hidungnya tidak kelihatan oleh mata kepalaku.
Disaat saya celengak-selengok ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba Muchlis membentakku dari belakang denga berkata hei. Waktu itu saya sangat terkejut sekali seakan-akan jantungku akan copot dari dadaku. Sembari memegang dadaku saya menegur ulahnya, “kamu toch Lis, bikin saya kaget aja”,
“Emangnya ada apa sich Suf, kok kamu kayak orang lagi kebingungan”
“Ini nich, aku lagi mencarai si Rendi”
“Si Rendi katamu Suf?”
“Iya Lis”
Muchlis terdiam sebentar, kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggerakkan telunjuknya, sembari berkata, “O…, Rendi santri baru itu, ya?”
Saya membetulkan ucapannya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Denga rasa ingin tahu yang amat sangat tinggi, muchlis mencoba memancingku dengan beraneka ragam pertanyaan yang dilontarkan kepadaku. Agar saya mengabarkan kepada tentang sesuatu yang telah diperbuat oleh Rendi kepada saya. Lantas dia bertanga tentang alasan saya, kenapa saya sampai mencari rendi seperti kucing mencari tikus.
Tapi saya tidak akan semudah itu untuk memberi tahukan kejadian sebenarnya kepadanya, kalau sampai saya memberi tahukan peristiwa yang sebenarnya, pasti dia akan menuduh Rendi pada hal-hal yang nggak-nggak. Apalagi kalau saya katakan kalau Rendi saya pergokin di kamar Muchlis lagi sendirian dengan mengunci pintu kamar dari dalam. Dan saya yakin kalau Muchlis mengetahui hal itu, pasti dia akn menyelesaikan masalah ini denga jalan kekerasan, saya bias membaca jalan pikiranny dari beberapa pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku, diman semua pertanyaannya mengarah kepada hal-hal yang bias memojokkan Rendi, seakan-akan dia mengetahu sifat jeleknya Rendi. Sikap saya yang selalu diam dan tak merespon pertanyaan-pertanyaanya, membuatnya jadi bosan dan kesal kepada saya. Tapi akhirnya saya berhsil mengalihkan pembicaraan itu ke hal-hal yang lain dan saya menyudahi permasalahahnkan yang tadi.
“Oya, Lis, tadi kamu mengunci kamarnya, ya?”
“Tidak, saya lupa menguncinya tadi, emangnya ada apa, Suf?”
“Endak, dak ada apa-apa kok, eh Lis, ngomong-ngomong ada apa sich, koko kama manggil manggil saya tadi?”
“Oya ini boltpointnya kamu,  ya?” Ucap Muchlis sembari menyodorkan boltpoint itu kepada ku.
“Iya benar, ini boltpointku. Dimana kamu menemukaknnya?”
“Itu tuch saya menemukannya di bawah tangga”
“Untung kamu yang menemukan, Lis. Kalau kalau bukan kamu saya tidak bias menjamin keselamatan boltpoint ini. Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak kamu telah mengembalikan boltpoint saya”
“IyaSuf, sama-sama”
“baiklah kalau begitu saya ke kamar dulu ya!”
“Ya,ya. Silahkan Suf !”
Kamipun bubar dari tempat itu dan menuju ke kamar kami masing-masing.
š
Selang tempo lima belas menit, setelah saya ganti baju tiba-tiba muchlis berteriak dengan teriakan yang cukup histeris seperti orang yang sedang emosi. Teriakan Muchlis tersebut, mengundang segenap santri dan berbondong-bondong berdatangan ke kamar Muchlis, saya diantara salah satu santri-santri itu. Seorang santri mencoba untuk menenangkannya, tapi emosi Muchlis semakin tinggi, bahkan Muchlis melempari dia dengan bukunya. Lalu saya mengumpulkan keberaniannku untuk mendinginkan pikiran Muchlis, saya tahu betul sifat Muchlis, karena saya adalah teman yang paling dekat dengannya.
“Lis sadar, Lis. Iling teman, ada apa denganmu wahai temanku? Masalah apa yang menimpamu teman, mungkin aku bisa membantumu”
“Suf, tolong Suf. Uang saya hilang, Suf !” ucap Muchlis dengan nada yang tersedu-sedu.
“Apa Lis! Uang kamu hilang katamu, berapa Lis uang kamu yang hilang?”
“Lima ratus ribu rupiah Suf” jawabnya lemas.
Dengan perasaan masygul, dia bercerita kepadaku bahwa uang itu akan dipergunakan olehnya untuk membeyar uang tahunan pondok. Tapi sayang sekali semua uang itu ludes tanpa meninggalkan bekas, dia juga berkata kepadaku kalau orang tuanya masing ngutang untuk mendapatkan uang itukepada tetangganya. Sembari mengusap pundak Muchlis, saya berkata kepadanya “Tenanglah, Lis. Insyaallah saya bias membantumu”
Mendengar keluh kesahnya Muchlis tersebut, saya menjadi iba kepadanya demikian pula santri-santri mendengarnya. Tiba-tiba diantara teman-teman sebagian santri ada yang menyebut-nyebut nama Rendi. Mendengar nama itu, saya langsung membubarkan teman-teman santri dan menyuruh mereka untuk kembali ke kamarnya masing-masing, karena kondisi Muchlis sudah agak dingin, lalu saya samperin santri yang menyebut-nyebut nama Rendi itu dan saya mengajaknya ketempat yang sepi untuk menggali informasi tentang Rendi, karena saya juga menaruh curiga pada tingkah laku rendi tadi. Nama santri itu adalah Rahmat.
Walaupun si Rendi merupakan santri baru, Rahmat ternyata tahu banyak tentang tingkah laku, dan juga sifat-sifat yang dimiliki oleh rendi. Karena Rehmat itu tiada lain adalah tetangga Rendi ketika di desanya. Dia banyak memberi tahuku tentang sikap dan sifat jelek yang disbanding oleh rendi, dan dia yakin 100% kalau yangt mengambil uang Muchlis adalah Rendi sendiri, karena dia tahu betul kalau Rendi sering melakukan perbuatan tercela ini ketika belum mondok, ditambah lagi saat saya mengatakan kepadanya kalau saya mempergoki Rendi lagi sendirian di kamarnya Muchlis dengan mengunci pintu dari dalam. Argumen rahmat tersebut, memperkuat dan memperkokoh keyakinan saya kalau rendilah tersangkanya. Ditengah-tengah percakapan kami, ternyata sepasang mata dan sepasang telinga turut memperhatikan percakan kami, mengetahui hal itu akhirnya kamipun terdiam sesaat, dan filingku menerka bahwa orang yang mengintip percakapan kami tadi adalah Muchlis. Ternyata dugaan say tidak salah sasaran, ketika saya dan Rahmat pergi untuk menemui Rendi ke kamarnya, tidak terasa langkahku juga diikuti Muchlis. Dikala saya dan Rahamt tiba di depan kamarnya Rendi, dan Muchlis-pun menysul kami, tiba-tiba ada suatu yang janggal di sana, kami bertiga mendengar bau bau asap rokok yang berasal dari kamar Rendi. Rahamat yakin sekali kalau yang merokok itu adalah Rendi dengan dalihnya dia mengatakan kalau si Rendi ketika di desanya suka merokok, bahkan si rendi pernah menghisap ciming yang diletakkan di batang rokoknya. Rahmat juga menerka kalau Rendi menggunakan uang curian itu untuk membeli rokoktersebut, karena yang dia tahu, uang milik Rendi sudah di habiskan oleh rendi dan rendipun juga banyak hutangnya. Jadi, tidak mungkin teman-teman Rendi memberi pinjaman uang lagi kepada Rendi.
Mendengar pemapadan dari Rahmat, seketika emosi Muchlis semakin memuncak, matanya memerah, kedua tangannya mengepal, hingga akhirnya diterjanglah pintu kamar Rendi olehnya. Si Rendi tertangkap basah di kamarnya, Rendi tidak bias berbuat apa-apa lagi, lalu Muchlis memegang baju Rendi dan menunjoknya berkali-kali. Si rendi itu lemah, dia ketakutan dan dia tidak kuasa untuk membalas pukulan Muchlis. Kami berdua yang melihatnya, akhirnya berhasil  melerai pertiakaian Muchlis dan Rendi. Dengan sifatnya yang seperti anak-anak, Muchlis menyapa Rendi dengan kata pencuri.
“Hai pencuri kau! Diman kau simpan uangku?, cepat kembalikan uangku!, kalau tidak aku akan menghajarmu ahbis-habisan” Tanya Muchlis sembari mengancam Rendi.
Dengan bersikap acuh tak acuh, si Rendi berkata, “apa apaan kamu, Lis? Apa sich maksudmu menuduh saya pencuri”
“Alah Ren, kamu jangan bohong dech! Kamu kan yang mencuri uangku?”
Si Rendi terdiam termangu, dengan muka yang pucat, diapun menoleh kepadaku, kemungkinan besar malu kepadaku untuk berargumen.
Lalu saya terdorong untuk mendinginkan suasana “Ren, apa yang kamu lakukan di  kamar Muchlis tadi?”
“A a anu Suf, saya tidur tiduran di sana” uacap Rendi dengan sikap yang gerogi.
“Terus apa lagi yang kamu lakukan di sana?”
“hanya itu Suf yang aku lakukan” ucap Rendi sembari menundukkan kepalanya.
“Okey, kalau begitu, kami tahu kok, Ren. Kalau kamu tadi merokok, kan? Sekarang dari mana kamu dapat uang untuk membeli rokok, lagi pula kamu tidak punya uang, kan? Dan hutangmu banyak kepada teman-teman? Benar kan, Ren?”
Rendi diam sebentar, lalu dia bertekuk lutut sepertinya dia mengetahuiarah pembicaraanku, akhirnya dia meneteskan air matanya dan dengan perlahan-lahan, dia mau mengakui perbuatannya yang tercela itu. Dikala dia mengakui kesalahannya, sayapun memberi mau’idzah kepadanya. Sebagai pencegah sekaligus obat dari kebiasaannya yang kurang baik itu. Dan juaga agar dia jera dan tidak lagi mengulangi perbuatan ini.
“Ren, kamu harus sadar, Ren. Uang yang kamu curi itu tidak akan membuata kamu kaya, dan kamu juga tidak akan membuatmu menjadi tenang, bahkan sebaliknya uang yang kamu curi itu akan membuatmu sengsara, dan akan mendatangakan adzab dari Allah. Ren, ingat Ren, uang hasil curianmu itu adalah uang haram. Rasulullah bersabda ‘barang siapa yang makan sesuap dari hal yang haram, maka dia tidak diterima shalatnya selama empat puluh satu hari’ dan sabdanya yang lain ‘barang siapa yang tumbuh dari perkara haram maka neraka akan diprioritaskan baginya’ ren, kamu juga ingat Ren, disini kamu tinggal di pondok ren, kamu seorang santri, konon katanya ‘kalau dipondok mencuri jarum, maka dirumahnya akan mencuri jaran (Maduara)’, Ren, lain kali kalau kamu dikirim uang oleh orang tuamu, sebaiknya kamu tabung saja uangmu itu untuk membayar hutangmu, jangan boros dan jangan di belikan rokok lagi, karena orang tuamu memondokkan kamu kesini buakan untuk berneko-neko. Tapi beliau berharap kepadamu agar kamu menjadi anak yang shaleh yang selalu taat beribadah dan berbakti kepada orang tua dan guru”.
Akhirnya Rendipun mau mendengar ucapanku, dia sadar dan berbertobat untuk tidak mengulangi perbuatan tercela itu kembali. 

By: Moh Ali
Delegasi MA Sumber Bungur Pakong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar